Selasa, 20 Desember 2011

Honda Tiger, Detail dan Fungsional


Gaya street fighter WJS (West Jateng Style) sudah banyak. Pelopornya Agus Djanuar dari XK Bike Design (XKBD), Purwokerto. Nah, sebagai pionir, di penghujung 2011 menyuguhkan konsep beda dari biasanya. Beda apanya, Bro?

Beda dibanding garapan terdahulu yang cuma sangar doang. Ini kali memperhatikan detail dan lebih kental unsur fungsional. Jadi, gak cuma tampilan doang yang klimis, tapi lebih ke fungsi dan tentu saja tidak meninggalkan ciri petarung jalanan.

Selain aplikasi mono arm, pilihan bentuk dan komponen yang begitu detail. Seperti bentuk tangki simpel dengan dimensi kecil. Desain seperti ini membuat kapasitas bahan bakar cuma muat 4 liter.

“Tangki sengaja dibikin rada tinggi. Biar enak dikempit saat riding. Gaya berkendara si empunya motor juga berpengaruh pada desain, makanya saya konsultasi soal bentuk,” buka Agus Djanuar yang beken disapa Om Agus DJ. Otomatis jok rider jadi tinggi. Mengikuti postur Opick si empunya Honda Tiger. Makanya set up jok menjadi perhitungan fungsional.

Jadinya, dimensi, bentuk dan fungsi saat motor dikendarai bisa normal. Untuk itu, “Frame belakang dibuat ulang dari pipa 0,5 inci. Materialnya ambil dari produk ISTW yang merupakan pipa standar industri. Sederhana namun jaminan kuat,” papar pria berkumis ini.

Selain teknik penempatan jok, posisi setang juga disesuaikan. Setang yang bergaya ala motocross didukung jok dan setang tinggi. Tidak membuat cape ketika dikendarai

“Dengan riding position seperti ini lebih mudah bermanuver di jalan raya. Mulai handicap dengan banyak tikungan maupun jalan lurus jadi tidak capek,” analisis pria humoris ini.

Termasuk pada kaki-kaki atau suspensi, didukung dengan bodi yang fungsional. “Saya menyuguhkan konsep bodi simple tanpa shroud, agar tampilan kaki-kaki lebih menonjol,” cuap ayah satu putri yang selalu mengandalkan serat fiber untuk modifikasi ini. Apalagi Agus DJ sedang gemar aplikasi mono arm. Jadi, memang konsep awal bodi dibuat simpel agar kaki-kaki terlihat menonjol. “Pakai limbah Triumph termasuk peleknya. Pemasangan sedikit ribet pada konstruksi dudukan as pro arm. Sebab kudu ubah 6 titik agar ngepas dengan sasis Tiger,” papar pria necis ini.

Sebagai pembuktian, menggunakan ritual atau cara unik. Motor yang sudah selesai selesai dibangun ditest ride. Jarak yang ditempuh lumayan, terngantung pilihan jalur yang akan dipakai.

“Saya selalu ngajak owner motor turing. Sekaligus pengenalan karakter motor, sebab dimensi dan gaya berkendara pasti berbeda. Tujuanya agar lebih menyatu dengan kondisi motor,” yakin Agus DJ yang menggunakan jalur Purwokerto-Pemalang PP saat event Fighter Day 5 lalu. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan: Pirelli 110/60-17
Ban belakang: Dunlop 190/50-17Sok depan: GSX400
Sok belakang: Triumph
Setang: MFPS
XK Bike Design: 0816-6929-64

Minerva 150, Tidak Lupa asal


Moge Yamaha R6 memang punya pesona sebagai besutan supersport sejati. Itu yang membuat Franka rela ‘mengacak-acak’ Minerva 150 miliknya agar menyerupai R6.

Basic motor mengandalkan Miverva sudah sangat mendukung. Karena memiliki konstruksi mudah dibentuk. Lantaran asalnya sudah punya tampilan motor sport yang full fairing.

Modifikasi di rangka cukup dua yang dilakukan. Deltabox ditambah pelat baru yang desainnya menyerupai milik Yamaha R6. Juga sub frame pada rangka belakang dibentuk lebih tinggi lagi.

Kecuali, bodinya. “Untuk mengikuti Yamaha R6, seluruh bodi lama enggak ada lagi yang dipakai. Tapi, part-part yang mendukung lainnya masih tetap andalkan milik Minerva. Utamanya bagian lampu depan masih pakai punya aslinya,” bilang Budi Dave dari bengkel Dave Motor Concept di Jl. Keadilan, Rawa Denok, Rangkepan Jaya, Depok.

Dave Motor Concept yang memang spesialis ubahan pakai pelat besi ini langsung merangkai bodi baru untuk Minerva. “Seluruh sudah full pelat, cuma untuk menekan bobot motor, mengandalkan pelat galvanis yang lebih ringan,” lanjut Budi yang menambahkan proses pelapisan dempul juga dibuat lebih tipis.

Agar pengendalian motor masih tetap nyaman dipakai harian, dimensi bodi yang diaplikasi tidak dibuat gambot. Justru desainnya lebih slim, malah dimensinya juga dibuat sama dengan bodi lama Minerva.

Bisa dilihat dari model fairing dan bodi belakang. Lekukan bodi tetap dibuat menyerupai Yamaha R6 namun bodinya enggak terlalu besar. “Kalau terlalu besar, selain handling jadi kurang nyaman tampilannya juga jadi enggak oke, soalnya kaki-kaki masih andalkan bawaan motor,” lanjut Budi.

Seperti sok depan model upside down bawaan dari Minerva. Sedangkan untuk lengan ayun belakang aslinya yang dimodifikasi, sehingga modelnya meyerupai arm Yamaha R6. Selanjutnya biar besutan Franka berdiri lebih tegap, pelek diganti dengan tapak lebih lebar. Mengandalkan produk variasi.

Supaya akselerasi lebih responsip, Budi mengandalkan knalpot racing sebagai saluran gas buang baru. "Model dan desain knalpot ini seluruhnya ubahan dari DMC," tutup builder ramah ini

Kelir Identitas

Biasanya kalau sudah ganti bodi, identitas asli motor sengaja dihilangkan. Namun tidak buat Franka, pemilik motor ini tetap pede menampilkan identitas Minerva yang ditempel pada fairing bawah dan logonya di bagian tangki.

Untuk pemilihan warna, sengaja masih dominan kelir merah yang mengikuti warna asli identitas Minerva, mengandalkan kelir merah Ferarri. “Biar telihat lebih tegas dikolaborasi dengan warna hitam pada bagian bawah.

"Biar lebih manis, diselipkan grafis berupa tarikan cutting sticker pada bagian tengah fairing ” lanjut Budi lagi. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : BT 45 110/60-17
Ban belakang : BT 45 130/70-17
Knalpot : Custom DMC
Pelek : Variasi
DMC : (021) 6844-7990

Selasa, 06 Desember 2011

"Tekstur bodi memang sederhana, masih belajar meramu dan memberi ciri bagian per bagian," buka Eko Bondus, builder dari Bondus Bike Modification (BBM), yang menggarap Yamaha Scorpio milik Ifan asal Jakarta. Dia tengah belajar memodifikasi dengan gaya West Jateng Style (WJS), aliran yang digemari di Purwokerto.

Eko terapkan teknik pangkas buntut. Rangka belakang dipotong 20 cm. Yang dipotong bagian atas. Sedang frame bawah ditekuk ke atas sesuai sisa potongan tadi. Walaupun buntutnya pendek namun masih bisa boncengan, sebab memakai konsep double sitter. Tantu saja sedikit repot buat boncenger karena joknya secuil.



Aplikasi ini nyambung dengan tangki model Honda CBR600RR yang berdimensi ramping. “Sengaja dibikin kecil agar buntut terlihat makin maju," analisis builder yang buka gerai di Jl. Kolonel Sugiono No. 24, Pondok Bambu, Jakarta Timur.

"Saya bikin desain serba padat. Contohnya deltabox yang menyatu dengan bodi tengah. Apalagi mesin Scorpio termasuk berdimensi besar di kelasnya, jadi terlihat lebih padat," cuapnya.

Eko mengaku dirinya murid Agus Djanuar, builder pelopor WJS. Tapi, detail belum sejago guru katanya. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan: Metzeller 120/60-17
Ban belakang: Michelin 190/55-17
Pelek: GSX 750
Setang: Hand made
Knalpot: Bondus Product
Lampu depan: Foglamp
Lampu belakang: Custom
BBM: 0815-9377-616

Sabtu, 19 November 2011

Internet membuat Briptu Norman terkenal

JIKA belum pernah menyaksikan aksi Norman yang sedang berjoget sambil duduk saat jaga, tidak ada salahnya Anda membuka YouTube. Lalu, ketik judul Polisi Gorontalo Menggila. Maka, Anda akan terhibur aksi polisi yang bertugas di kesatuan Brimob Polda Gorontalo itu.

Cara dia berjoget, meski dilakukan sambil duduk, persis dengan gaya Shahrukh Khan, sang penyanyi lagu berjudul Chaiyya-Chaiyya itu. Melihat gaya lipsync-nya juga menunjukkan bahwa Norman hafal dengan lagu tersebut. Karena itu, selama 6 menit 30 detik (durasi rekaman dalam YouTube itu), Anda pasti akan terhibur dan mungkin akan tertawa dengan gayanya yang kocak.

Video aksi Norman itu sudah dibuka lebih dari 500 ribu kali. Konon, jumlah itu lebih banyak ketimbang video asli Chaiyya Chaiyya di YouTube yang dibawakan penyanyi aslinya, Shahrukh Khan dan Malaika Arora. Video asli Shahrukh Khan tidak sampai 300 ribu kali dibuka.

Bagaimana ceritanya hingga muncul video itu? Ternyata, Norman merekam aksinya pada 9 Maret lalu. Saat itu, pria 27 tahun yang berdarah Gorontalo-Ambon tersebut sedang piket bersama dua rekannya, Briptu Labonsa dan Briptu Fajri. Ketiganya mulai bertugas pukul 09.00 Wita.

Saat sedang bertugas, Norman berbincang dengan Labonsa. Dalam pembicaraan itu, Labonsa sempat curhat seputar permasalahan yang dia alami. Pascapembicaraan itu, Labonsa hanya duduk diam sambil memainkan handphone miliknya. Labonsa yang sedang sedih membuat Norman juga ikut bersedih. Dia lantas berinisiatif menghibur temannya itu.

Norman lantas meminjam HP milik Fajri. Handphone miliknya digunakan untuk memutar lagu Chaiyya Chaiyya, sedangkan HP milik Fajri untuk merekam. Maka, beraksilah Norman. Di awal aksinya, sebelum lagu mulai, Norman terlebih dahulu mengisap rokok.

Setelah Norman merekam aksi lipsync-nya, tidak berapa lama rekaman itu beredar di kalangan anggota Brimob Polda Gorontalo. Jika akhirnya rekaman itu sampai beredar di YouTube,kemudian dibuka banyak orang hingga akhirnya dimuat atau ditayangkan di media massa, Norman tidak menyadari. Dia baru tahu aksinya disaksikan banyak orang setelah televisi menayangkan beberapa kali.Itu lah salah satu guna internet yang membuat kepolisian Indonesia "Xlangkah Lebih Maju".Sekarang XL sudah menyediakan fasilitas
yang lebih memudahkan kita untuk mengupload video kita baik ke youtube atau lainnya.

Norman menceritakan, ketertarikannya dengan lagu India berlangsung sejak dirinya kelas VI SD. Saat itu dia mengoleksi kepingan CD album lagu India. Beranjak ke SMP, ketertarikannya terhadap lagu-lagu India bertambah ketika munculnya lagu Kuch-Kuch Hota Hai yang dinyanyikan Shahrukh Khan bersama Kajol.

Mulai SD hingga menjadi anggota Polri, ketertarikan Norman terhadap lagu-lagu India tidak pernah surut. Bahkan, hingga kini dia telah mengoleksi 65 keping CD album lagu India. Di antara 65 album lagu tersebut, lima lagu menjadi favoritnya. Di antaranya, Chaiyya-Chaiyya dan Kuch-Kuch Hota Hai.

Halimah Martinus, ibu kandung Norman, mengungkapkan bahwa sejak kecil Norman sering bernyanyi dan bergoyang lagu India. Bahkan, kamarnya dipenuhi poster (gambar) para artis India.

Ketika aksi Norman banyak ditonton di dunia maya dan namanya mendadak populer, Halimah berharap agar anaknya tidak dijatuhi sanski.

Sabtu, 12 November 2011

Sepatu Balap Di Bawah Rp 1,5 Juta


Tiga sepatu lokal desain seperti produk luar negeri
Beli sepatu balap aspal ataupun booth spesialis turing impor butuh dana lebih. Memang, spesifikasi booth sekelas Alpinestar, Sidi, ataupun Gaerne dirancang dengan material spesial. Tapi, seandainya dana yang ada terbatas bisa juga kok pilih sepatu lokal. Harga sepatu made-in Indonesia mentok di angka Rp 1,5 juta.

AHRS atau Asep Hendro Racing Sport dan Hendrianyah Racing Product (HRP) ) termasuk produsen sepatu balap road race yang memang sudah populer di arena pasar senggol.

HRP bermarkas di kota Jogja mengandalkan salah satu produknya dengan desain eye catching. Pilihan kelir hijau stabilo dan merah doff sudah pasti bisa bikin konsumen melirik.

Booth racing HRP mengambil desain Alpinestar GP7. Klik pengencang juga ditampilkan. HRP racing booth ini dibanderol Rp 600 ribu. “Materialnya finel dan plastik. Termasuk juga ada campuran kulit supaya tetap nyaman dipakai,” beber Haholongan Lubis dari HRP yang buka di Jl. Parangtritis, KM 4,5, Jogja.

AHRS bermarkas di Jl. Tole Iskandar, No.162, Depok Timur, bikin sepatu balap aspal dua tipe, Protech Series dan GP Tech. Rancang bangunnya mirip Gaerne yang tertutup. Material dasarnya dominan kulit sintetis. Booth racing Protech Series dijual Rp 1,3 juta dan GP Tech dilego Rp 575 ribu.

Sepatu Protech Series dan GP Tech memang jelas banget kenapa bisa berbeda banderol. Selisihnya hampir Rp 800 ribu lebih mahal Protech Series dibanding GP Tech.

Secara desain GP Tech dan Protech Series punya kemiripan. Tapi, sobat lihat lebih jelas kelihatan material pelindungnya Protech Series. Pelindungnya di ujung kaki dan mata kaki dibikin elastis, tapi tahan benturan. Bagian yang pasti mengikuti gerakan kaki dirancang lebih fleksibel.

Sepatu balap pastinya punya pengaruh sama spesifikasi untuk boot turing. Lihat sendiri produk luar negeri yang memang dipakai untuk turing punya rancang bangun yang sama dengan sepatu balap aspal. Seperti booth yang dibikin DTMC di Jl. Damai, 10/05, No. 2, Daan Mogot, Jakarta Barat. Sepatu turing dirancang mirip sepatu balap. Harga jualnya Rp 650 ribu.

“Kulitnya sama, tapi tanpa slider alias pelindung untuk turing yang memang gak ada,” beber Danu Herlambang, pemilik DTMC. (motorplus-online.com)

Sabtu, 05 November 2011

Yamaha Mio Soul, Best Of The Best 2011


Yamaha Mio Soul yang bertransformasi menjadi motor pengangkut barang ini, berhak diganjar sebagai pemenang Yamaha Cuzztomatic 4 (YC4) Region 3. Malah, enggak cuma titel itu aja yang dimenangkan. Tapi, Soul milik Susanto Gunawan ini keluar sebagai Best of The Best YC4.

Meski milik satu orang, tapi proses pengerjaan digarap oleh empat modifikator. Ya, semacam proyek kerja bareng. Meskipun, tak semua kerja bareng itu bersifat proses pengerjaan. Yaitu; Susanto Gunawan dari 909 Hot Matic, Johny Lipurnomo dari Custom World, Teddy dari Deal Motor Sport dan Ryan dari Aboben.

Menurut Susanto sendiri, tema atau konsep yang diusungnya tak jauh dari motor cargo. “Iya. Ceritanya motor ini sebagai kendaraan pengganti mobil yang tak memungkinkan untuk masuk ke daerah pelosok,” ungkap pria yang biasa disapa Yayank itu.

Maka itu, proses garapan yang utama difokuskan di sektor tengah. Ya, bikin tempat buat letak barang nantinya. So, sasis standar pun tidak lagi terpakai. Yayank bikin ulang frame dari pipa seamless diameter 3,2 cm, tebal 5 mm.

Rangka tengah sendiri, dibuat menjadi kotak. Panjangnya dibikin jadi 65 cm. Tapi, buat penyimpanan barang sendiri dibatasi jadi 45 cm. Sisanya, menjadi tempat penyimpanan aki dan tangki buat bahan bakar juga. Sedang untuk tingginya, dibuat 75 cm."Ukuran ini disesuaikan dengan boks yang biasa dipakai perusahaan jasa pengiriman barang pakai motor. Jadi, secara handling masih aman,” ungkap pemilik workshop di 909 Hot Matic dari Jl. Cihampelas, No. 187, Bandung, Jawa Barat.

Yayank juga memikirkan soal kekuatan. Artinya, selain boks tidak boleh melebihi diameter bodi, bobot juga nggak boleh lebih dari 50 kg. Lagi-lagi, takutnya semua akan mempengaruhi handling.


Makin sesuai konsep, karena ban yang diaplikasi memang diperuntukan buat medan off-road alias tanah. Maklum, kan pacuan kurir ini bakal dipakai ke pelosok daerah.

So, pengendaranya pun jadi enggak takut ban selip di medan tanah yang becek. Karet bundar yang dipakai, mengambil milik ban ATV. “Selain kejar konsep, menerima beban besar juga tidak bermasalah,” timpal pria yang sedang berbunga-bunga itu.

Akhirnya, selain gelar Best of The Best Yamaha Cuzztomatic 4, Yayank juga berhak diganjar hadiah berangkat ke Tokyo Motor Show 2011 oleh Yamaha.

Congratzz, Bro..!

Kaya Inovasi

Selain bodi yang memakai bahan fiberglass, Yayank juga banyak berinovasi dalam urusan perdaman kejut dan kemudi. Akibat besarnya boks di rangka tengah dan posisi duduk yang mundur ke belakang, kemudi tentu tidak bisa dibuat umumnya.

Maka itu, pria 35 tahun ini mengadopsi ball joint untuk lebih mempermudah kinerja setang. Jadi, riding style enggak berubah.

Pada bagian peredam kejut depan, Yayank aplikasi model link arm. Lengan ayun-nya limbah moge. Tapi sayangnya, dia lupa dari moge tipe apa. Begitunya arm dikombinasi dua sok. Tapi, tabung sok pakai Mio. Sedang per punya bebek. Kalau pakai per Mio, terlalu keras nantinya.

Terakhir, crankcase dibuat panjang sekitar 10mm. Caranya, disambung pakai crankcase Mio lainnya. “Potong-sambung pada bagian depan dan belakang. Jadi, ban bisa masuk,” tegasnya. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban : Kenda 23x7.00-10
Footstep : Yamaha Lexam
Sok belakang: Yamaha YZ125
Cover knalpot: Yamaha Byson
909 Hot Matic: 0813-2213-0168

Selasa, 01 November 2011

Yamaha RX-King Fashion Harian


Yamaha RX-King peliharaan Wahyu, tampilannya nggak hanya sekadar bisa diajak jalan. Dipoles supaya tampil up to date untuk bisa menunjang tongkrongan yang sempurna. “Kelir dibuat ngejreng. Mulai dari rangka dan juga sentuhan airbrush grafis di seluruh bodi,” jelas Wahyu yang warga Sudimara, Pinang, Tangerang.

Seluruh frame disemprot oranye metalik. Detail kelir juga menjadi aksen pada grafis di tangki dan sepatbor. “Saya padukan grafis oranye dengan abu-abu gelap dan hitam mengikuti kelir asli motor.”

Kaki-kaki juga sudah dibikin sip. Sudah aplikasi roda kurus yang biasanya dipakai skubek. Mengandalkan lingkar roda alias pelek ring 17 inci dan dibungkus ban tipis. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Swallow 50/90-17
Ban belakang : Swallow 60/90-17
Pelek : Takasago 2,15x17
Knalpot : Standar bobok
Sok belakang: YSS