Minggu, 26 Agustus 2012

Nissan Livina 2010, Ganti Kepala Silinder Demi Turbo


Ngoprek mesin menjadi mata pelajaran penting buat Alfonsin Januady Utama selain menamatkan pendidikan S1 di Trisakti. Nissan Livina kesayangannya bahkan sudah mengalami 2 fase modifikasi.

“Pertama kali coba oprekan adalah korekan pada bagian kepala silinder bergaya NA,” tutur pria kelahiran Medan, Sumatra Utara ini. Tak hanya porting dan polish, per klep dan saluran gas buang juga sudah kena permak.

Waktu itu perbandingan kompresi lumayan besar sehingga untuk pakai harian harus pakai Pertamax Plus. Kemudian datang tawaran untuk ganti spek dari bengkel Art Speed yang bermarkas di Kedoya, Jakbar, tempatnya biasa mengoprek. “Waktu itu belum kepikiran pasang turbo, tetapi enggak ada salahnya mencoba,” jelas Alfon yang juga member klub Nissan Livina ini.

Otomatis banyak ubahan yang sudah dikerjakan sebelumnya menjadi mubazir. Gaya oprekan NA (Normally Aspirated) dan FI (Forced Induction) sangat bertolak belakang. Memang hasil yang didapat sepadan, karena Alfons langsung mendapat juara pertama di kelas 16 detik pada ajang Achilles D2 Drag Race yang lalu.

Ubahan mesin yang bumi dan langit antara NA dan FI ternyata terletak pada perbandingan kompresi mesin. Pada mesin NA, perbandingan kompresi diusahakan setinggi mungkin agar akselerasi pada putaran atas bisa 'galak'.

Bor korek dan mata tuner pun dipakai guna memperbesar saluran inlet dan outlet kepala silinder. Dasar kepala silinder pun kena papas hampir 0,75 mm demi perbandingan kompresi besar tadi. Menjadi terbalik saat Alfons mau pasang turbocharger GT25 copotan Nissan Skyline RB26-DET.

Pada ubahan FI, kepala silinder justru harus memiliki perbandingan kompresi rendah. Makanya kepala silinder yang sudah diacak-acak bergaya NA tak bisa lagi dipakai. “Saya beli kepala silinder lagi yang masih orisinal,” cetusnya.

Piping stainless steel dan segala perabotan lenong untuk mendukung hembusan turbo macam intercooler, blow-off valve hingga piggyback Dastek Unichip Q+ mulai dikumpulkannya. Piping customized yang dikombinasi dengan silicone hose sebagai sambungan dibuat serapi mungkin.

Intercooler besar buatan ARC sebagai pendingan angin dari turbin pun dibuat nyempil dibalik bumper depan. “Biar rapi dan tidak kelihatan ekstrem,” kelakar Alfons. Sementara memenuhi pasokan bensin tambahan saat turbo ngeboost pada skala 0,5 Bar, Ia menambahkan ekstra injektor alias nosel sebanyak 2 buah.

Nosel dengan ukuran debit 590 cc tadi ditancapkan ke pelat aluminium tebal alias adaptor sebelum throttle body. Kinerja nosel tambahan yang ideal bisa didapat setelah Dastek Unichip Q+ ditandem dengan ECU orisinal. “Dua nosel tambahan tadi dan sistem timing pengapian bisa disetel dari Unichip Q+,” ungkapnya.

Hasilnya, 'not bad at all'. Hanya dengan boost 0,5 bar dan bahan bakar Pertamax Plus, bisa di dapat 140,6 dk on-wheel. Bandingkan dengan tenaga maksimal Livina standar pabrik yang hanya dipatok tak lebih dari 90 dk. Saat menjajal mobil di ajang drag race 402 meter, elapsed time terbaik 16,01 detik bisa diraih dengan sedikit usaha.  (mobil.otomotifnet.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar